Mengikis Ruang Gelap Keuangan Negara

Mengikis Ruang Gelap Keuangan Negara

.

TAMPARAN keras itu, lagi-lagi, datang dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Untuk keempat kalinya secara berturut-turut, lembaga pengaudit keuangan negara itu memberikan opini disclaimer, atau tidak menyatakan pendapat, atas laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP).

Yang terakhir, penilaian paling buruk dalam kategori akuntansi itu terjadi atas LKPP 2007. Opini hasil pemeriksaan yang terus-menerus buruk itu menggambarkan belum adanya kemajuan dalam peningkatan transparansi serta akuntabilitas keuangan negara.

Ada sejumlah alasan pokok yang menyebabkan lembaga pimpinan Anwar Nasution itu memberikan opini disclaimer. Tapi, jika diringkas, ada tiga hal pokok mengapa laporan keuangan negara itu amburadul.

Pertama, soal hubungan kelembagaan. Dalam hal ini terbatasnya akses BPK atas informasi di sebuah departemen atau institusi pemerintah. Itulah yang terjadi menyangkut biaya perkara yang dipungut Mahkamah Agung.

Hal kedua adalah lemahnya sistem akuntansi dan pelaporan keuangan negara, termasuk terbatasnya sumber daya manusia pengelola keuangan di pusat dan daerah, dan minimnya pemanfaatan teknologi. Kondisi itu diperparah kelemahan sistem pengendalian internal pemerintah yang belum mampu meninjau ulang kebenaran laporan keuangan sebelum diperiksa BPK.

Soal ketiga, buruknya laporan keuangan negara terjadi karena belum tertibnya penempatan uang negara dan belum adanya single treasury account pemerintah. Kondisi itu menyebabkan potensi penyelewengan sangat besar. Apalagi, berdasarkan temuan BPK terdapat fakta bahwa masih ada penerimaan dan pengeluaran di luar mekanisme APBN.

Itu artinya, banyak uang berseliweran tak jelas rimbanya dan menjadi wilayah remang-remang yang memunculkan transaksi gelap uang negara. Seperti sebuah permainan sepak bola tanpa wasit. Tiap-tiap pemain akan berebut membawa bola untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya, tak peduli meskipun untuk itu harus melakukan pelanggaran keras.

Amburadulnya keuangan negara dalam kurun empat tahun berturut-turut menunjukkan negeri ini memang kaya retorika, tapi miskin implementasi. Transparansi dan reformasi birokrasi asyik digaungkan dan diseminarkan, tapi lupa untuk dipraktikkan. Bahkan untuk hal yang sifatnya mendasar dalam asas transparansi, yakni laporan keuangan.

Padahal, kalau ada kemauan untuk memulai, urusan pengelolaan keuangan dan transparansi birokrasi bukanlah perkara yang susah untuk dikerjakan. Tapi, teladan justru tak muncul dari pusat. Kesediaan untuk memulai malah ditunjukkan daerah. Itulah yang terjadi di Pengadilan Agama Cilacap dan Kendal, Jawa Tengah.

Di kedua wilayah itu, tidak ada yang gelap menyangkut uang negara. Perincian biaya perkara ditempel di papan pengumuman. Uangnya pun ditransfer ke rekening pengadilan. Selain itu, alokasi anggaran yang bersumber dari APBN dan peruntukannya bisa diakses melalui internet.

Karena itu, opini disclaimer kali ini mestinya menjadi titik pijak bagi pemerintah pusat untuk mulai melakukan aksi. Berikan akses seluas-luasnya dan semudah-mudahnya kepada publik untuk mengetahui bagaimana uang negara dikelola.

Kepada BPK, berikan penjelasan yang terang benderang kepada rakyat bahwa tidak semua temuan penyimpangan identik dengan korupsi. Kalau persoalannya menyangkut standar mekanisme akuntansi, lakukan koordinasi dan susun secara bersama standar baku pelaporan keuangan negara.

Jangan biarkan publik memainkan imajinasi sendiri dan menduga-duga telah terjadi perselingkuhan karena masih adanya ruang-ruang gelap pengelolaan uang negara.

(Sumber : Editorial Media Indonesia/Jumat, 06 Juni 2008 00:01 WIB)
Explore posts in the same categories: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: